1 Maret 2015.
Tepat 22 tahun pernikahan kedua orang tuaku. Mungkin 22 tahun juga ibuku
merasakan penderitaan. Entah seberapa sakit, hanya ia yang bisa merasakan. Namun, disini aku adalah putri tertua. Aku bisa
merasakan. Lewat air mata yang jatuh setiap malam. Mungkin itulah persamaan
kami berdua. Tiada malam tanpa air mata. Terkadang aku berfikir. Apa dosa yang
telah diperbuat ibuku, sampai harus menanggung penderitaan ini. Apa ini juga
yang akan kurasakan kelak?
8 tahun. Itu yang ku ingat. Setiap malam aku
mendengar orang tuaku berkelahi. Pukulan. Teriakan. Jeritan. Hampir setiap
hari. Setia pulang bekerja, larut malam, hanya suara keras yang kudengar. Seakan
ada jin yang merasuki tubuh ayah. Ya, memang itu yang terjadi. Aku tidak tahu
apa salah ayah sampai ada orang jahat yang melakukan ini kepada nya. Mungkin tidak
bisa disembuhkan. Padahal aku tahu, ayah sangat menyayangi kami. Kalau tidak,
tidak mungkin dia melakukan ini semua untuk kita. Banting tulang bekerja dari
pagi sampai pagi lagi, mengambil semua pekerjaan yang bisa dikerjakan, berhutang
kesana – kemari, sampai menjual semua barang yang ia miliki. Ya, kami memang
orang miskin. Ibu juga melakukan hal yang sama. Tak ada hari tanpa berhutang. Semua
mereka lakukan untuk kami, anak – anak nya. Terkadang ibu berhutang bahan
makanan yang terbilang mahal. Akupun marah. Kenapa ibu berhutang makanan –
makanan yang mewah. Darimana kita dapat uang untuk membayarnya. Namu setelah
itu aku pasti lari kekamar dan menangis mendengar jawaban dari ibu. “tak apa, nanti ibu yang cari uang buat
bayar, yang penting kalian bisa makan enak hari ini, kan bosan kalo makan nya
itu – itu saja”. Ibu selalu melakukan itu. Bahkan untuk ongkos sekolah ku
dan adik – adikku ibu masih sering meminjam uang kepada tetangga. Subuh – subuh
mengetuk pintu tetangga untuk meminjam uang. Aku tak tahu apa yang ia rasakan. Namun
sering kali orang tua ku mendapat pujian dari orang – orang. Seorang buruh bisa
menyekolahkan anak – anak nya sampai tingkat atas. Mungkin itu yang memotivasi
orang tuaku untuk selalu bekerja keras demi masa depan kami. Ibu selalu bilang,
“bukan ayah ibu yang berjuang. Tapi kita
semua yang harus berjuang”. Hari demi hari kita lalui dengan penuh
penderitaan. Kebutuhan hidup makin banyak, pengeluaran makin besar, namun
pemasukan yang tak bisa naik. Kakak ku adalah seorang teknisi listrik disuatu
perusahaan. Penghasilannya hanyalah gaji rata – rata karyawan. Tapi dari
situlah penghidupan kami. Penghasilan ayah digunakan untuk ongkos sekolahku dan
adik – adikku. Kita hidup dalam segala sesuatu yang serba kekurangan. Bahkan terkadang
saudaraku memberi bantuan dalam bentuk apapun. Aku selalu sedih melihat orang –orang
yang berkekurangan. Padahal orang lain pun sedih melihat kondisi keluargaku.
Ayah
dan ibu saling berjuang untuk kami. Tapi tidak untuk mereka sendiri. Mungkin
ini tahun kedua ayah dan ibu memutuskan untuk berpisah. Memang tidak berpisah
secara resmi. Mungkin ibu sudah tidak bisa lagi menahan ini semua. Ya, sudah
berpisah. Tapi, ada saja terror dari ayah yang selalu membuat ibu menangis. Aku
tak tau apa yang ada didalam pikiran ayah, apa yang ayah rasakan. Ayah seringkali
mengirim sms ataupun menelepon ibu dan mengatakan yang tidak – tidak. Seandainya
aku tahu siapa yang berbuat ini kepada ayah, aku taruhkan nyawaku asal orang
itu berhenti bernafas. Aku tahu, semua yang terjadi kepada keluarga ini bukan
lah sepenuhnya salah ayah. Ayah juga korban. Korban dari orang yang
membencinya, lalu berbuat jahat kepadanya. Seandainya saja ini tidak terjadi,
mungkin kami masih bercanda gurau bersama diruang keluarga sambil menonton tv,
melihat ayah pulang kerja setiap malam, bercerita- cerita tentang kejadian yang
kita alami hari ini. Namun semua itu tidak mungin lagi terjadi. That’s impossible
thing.
Aku
bukanlah siswa pintar disekolah. Tapi untuk masuk sekolah itu perjuanganku dan
kedua orang tuaku sangat besar. Ayah rela tidak bekerja sampai seminggu untuk
menemaniku mengurus kepindahan sekolahku ke SMK. Tahajjud dan dhuha tidak lepas
dari ibu. Setiap hari ayah bangun jam setengah empat pagi lalu menjemputku
kerumah untuk mengantarkan kesekolah. Perjalanan dari tempat ayah tinggal
sampai kerumahku butuh waktu kuranglebih 1,5 jam. Mungkin tidak semua ayah akan
melakukan hal itu. Itulah yang selalu membuatku ingin terus maju. Walau terkadang
aku merasa kemampuanku terbatas. Aku tidak bisa menjadi secerdas teman – teman.
Entahlah… mungkin inilah jatah ku. Bagaimanapun, bisa masuk kesekolah itu sudah
jauh lebih dari cukup. Semua harus aku jalani. Aku harus berikan yang
terbaik. Semua demi kedua orang tuaku. Walau
mereka sudah tidak bersama lagi. Walaupun mereka tidak sekaya orangtua teman -
temanku, tapi tetap kewajibanku membalas budinya kelak, walau hanya sebiji jagung.
Sering kali aku merasa iri dengan teman – temanku. Bekerja diperusahaan ini, sedang
kerja dikota ini, gajinya sebesar ini, mobilnya merk ini, gadget nya ini itu
dan blablabla. Sementara ayah, untuk membeli hp saja harus menabung berbulan –
bulan. Tapi temanku? “eh bokap gue baru
beli zenfone kemaren”, “eh anjir bokap gue baru beli Samsung galaxy blablabla”,
semakin hari semakin banyak teman – temanku yang mengupdate gadgetnya. Aku? Yap!
aku sadar. Semua yang kupakai hari ini, adalah pinjaman. Pinjaman dari orang
tuaku. Aku harus mengembalikannya, kelak jika sudah bisa menghasilkan uang. Laptop
yang ku pakai sekolah memang bukan barang yang bagus jika dibandingkan dengan
laptop teman – teman ku. Bahkan harganya tidak lebih tinggi daripada smartphone
mereka. Tapi barang ini didapatkan ayah
dengan penuh perjuangan. Aku harus menggantinya nanti. Bukan dengan uang, tapi
dengan kebahagianku kelak. Aku selalu berkomitmen, dalam sebulan orangtuaku
memberi uang sekian, maka jika aku sudah kerja, dalam sebulan aku harus memberi
orangtuaku minimal 3 kali lipat dari yang dulu mereka berikan. Kehidupanku yang
serba kekurangan ini sebisa mungkin aku tutupi dari teman – teman. Aku tidak
mau ada belaskasihan dari mereka. Cukup hanya lingkup internal yang tahu
bagaimana keadaan ku dan keluargaku.
Aku
hanyalah seorang remaja putri biasa. Seringkali merasa kesepian. Waktu luang
ibu digunakan untuk mengurus adik – adikku. Membantunya mengerjakan PR,
menemaninya bermain, sampai menemani menonton tv. Tak masalah ibu tak punya
waktu untukku, asalkan ia ounya banyak waktu untuk adik – adikku. Kalau bukan
ibu, siapa lagi yang memberi mereka perhatian. Ayah mungkin tidak bisa sesering
ibu. Jujur, walaupun sudah beranjak dewasa, aku tetap merasa butuh perhatian. Kepada
siapa aku curhat? Kepada siapa aku menagis jika ada yang menyakitiku? Mungkin hanya
lewat menulis aku meluapkan semuanya. Teman curhat? Ya, ada. Tapi tidak semua
bisa aku ceritakan. Mungkin teman curhat ku ini sangat special. Semua orang
bilang kita pacaran. Tapi sebenarnya bukan itu yang terjadi. Berawal dari masuk
dalam projek yang sama, saling curhat, saling menceritakan masa lalu, satu meja
dikelas, belajar bersama, makan bersama, berbincang – bincang di telpon
seharian, bahkan hingga larut malam. Sampai akhirnya kita sadar kalau kita
sedang dalam kondisi yang bisa mempengaruhi emosi kita, yaitu cinta. Ya, kita
sadar kita saling mencintai, saling menyayangi. Ada rasa untuk saling perduli,
saling melindungi. Mungkin dia lah jawaban dari doaku. Walaupun ayah tak bisa
stand by untuk menjagaku, aku berharap ada seseorang yang bisa melakukannya
untukku. Dia adalah laki – laki yang baik, keluarganya jelas, tidak seperti
aku. Terkadang aku merasa iri jika dia bercerita tentang keluarganya, bercerita
tentang hal – hal yang tidak mungkin terjadi kepada keluargaku, bercerita
tentang ayahnya, yang sangat berbeda jauh dengan ayahku. Seiring berjalannya waktu, aku merasakan bahwa
dia milikku dan aku miliknya. Aku tahu ini tidak baik. Aku ingin dia
menghabiskan waktunya hanya untukku, melakukan apapun yang aku mau, memenuhi
semua keinginanku. Aku tau ini adalah egois. Tapi ini semua keluar dari alam
bawah sadarku yang merindukan hal – hal itu. Semenjak ayah dan ibu berpisah,
mungkin taka da lagi yang memenuhi keinginanku. Diriku dikesampingkan. Aku merasa
seperti orang yang sedang diasingkan, kesepian. Semua yang kuinginkan hanya hayalanku belaka. Ya,
aku mengerti itu. Tapi apa ada seorang perempuan berumur 17 tahun yang tahan dengan
kondisi itu? Aku rasa tidak. Aku juga
butuh kasih sayang, perhatian, waktu untuk mendengarkan ku. Semua yang tidak
pernah lagi aku dapatkan. Aku butuh teman. Butuh lebih dari teman. Tetapi,
semakin kesini, dia semakin sibuk. Waktu untuk berbincang – bincang, untuk
bersama semakin lama semakin sedikit. Aku tahu kesibukannya adalah hal positif.
Semua yang dia lakukan adalah untuk masa depannya, sama seperti aku. Tapi ada
keegoisan dalam diri ini yang tak mau mengalah. Sakit rasanya untuk memilih,
mengikuti keegoisan ini atau mengertikan kondisi dia. Seandainya dia tahu,
kalau hanya dialah yang bisa membuatku merasa aman, nyaman, merasa kalau aku
masih dibutuhkan didunia ini, hanya dia yang bisa melakukan semua itu untukku,
selain ayah. Seandainya dia tahu itu. Tapi, masih banyak hal yang lebih utama
daripada aku, dimatanya. Orang tuanya, keluarganya, masa depannya. Seharusnya aku
lebih mengalah. Ini semua memang salahku, keegoisanku. Seharusnya aku tidak
melibatkan siapapun dalam kondisiku yang tidak jelas ini. Dari situ aku mulai
belajar, keegoisan bisa merubah segalanya. Apapun kondisinya, keegoisan harus
dimusnahkan dari dalam diri ini.
Aku
dibesarkan dan disekolahkan bukan untuk itu. Tujuanku hanya satu, yaitu membuat
penderitaan orangtua ku berhenti, terutama ibu. apa yang dirasakan ibu jika putri nya berlarut - larut dalam kesedihan. 20 tahun lebih penderitaan
dirasakan ibuku. Ia selalu berkata, “doa
utama ibu adalah agar putri – putri nanti ibu tidak merasakan apa yang ibu
rasakan sekarang, tidak ada laki – laki yang menyakitinya”. Ibu, aku juga
selalu berdoa, semoga semua penderitaan yang ibu rasakan selama ini akan
berganti menjadi kebahagian J
Aku tahu kalian sudah tidak bersama lagi. But,
happy 22th anniversary J