Friday, 6 March 2015

True Love


Judul                :   True Love
Jenis teks         :    Puisi


Aku bingung ...
Ketika sejuta masalah menimpamu bertubi - tubi
Ketika semua telah mengecewakanmu
Ketika semua tak lagi mengutamakanmu
Ketika tak ada lagi harapan untukmu

Seakan kau hidup hanya untuk kami
Melakukan segala hal demi kami
Memperjuangkan segalanya demi kami
Meski dosa sekalipun
Walau sering kami tak menghargai

Tetap mencintai kami
Walau kami semakin tumbuh dewasa
Lalu mulai sibuk dengan urusan masing - masing

Walau kami beranjak dewasa
Kami tetap prioritasmu
Kau tetap berjuang demi kami
Kau tetap khawatir dengan kami

Kau taruhkan seember keringat demi setitik kebahagian kami
Kau memikirkan apa yang kami lakukan hari ini,
Apa yang kami makan hari ini,
Apa yang kami alami hari ini ...

Walau kami tidak melakukan hal itu padamu

Kami tahu,
Kami jauh dari harapanmu
Tetapi mengapa kau tetap melakukan segala hal,
Demi membahagiakan kami

Sejuta sakit yang kau derita
Sejuta upaya yang kau kerahkan
Lelah yang kau rasakan
Namun tak ada yang bisa kami berikan
Hanya kekecewaan....
dan kekecewaan

Kami rindu saat - saat kita menghabiskan waktu bersama
Saat kau adalah satu - satu nya yang kami cintai
Saat tak ada air mata membasahi wajah indahmu

Usiamu yang tak lagi muda
Kami berharap kau tetap berada disamping kami
Izinkan kami membalas jasamu...
Walau hanya setitik saja
Izinkan kami tetap bersamamu ...

Karena kami yakin ...
Hanya kau lah yang mencintai kami....
Tulus....
Yang lahir dari nalurimu....


Ibu....
Kami mencintamu...







Puisi ini saya persembahkan untuk Ibu saya tercinta. Ibu, maafkan putrimu ini yang selalu membuatmu menangis. Maafkan anak - anak mu yang selalu menyakitimu. Kami mencintaimu... 
Sangat mencintaimu....



Read More...

Monday, 2 March 2015

Tak Seindah Burung Murai

Judul            :   Tak Seindah Murai
Jenis text      :   Puisi



ketika sinar bulan tak lebih indah dari senja
Gagak tak sama seindah burung murai
Kerbau pun tak bisa bagai kuda poni
Bahkan negeri sendiri tak senyaman negeri buckingham

Pujaan kasih seluruh jiwa
Tertuju ribuan hati
Bersinar bak kilau dewi mentari
Cinta pun mengekor ribu pasang mata

Beda nasi beda hidup
Malam yang kini tak lagi dambakan purnama
Bagai lebah yang tak cukup satu mawar

Senandung burung gagak yang diacuhkan, tak lagi dihiraukan
Terlihat seperti abu dalam arang
Hati yang sudah terendam
Walau rupanya tak berubah
Melihat cinta yang lebih memilih murai, dengan senandung nya

Isi dasar bumi siapa yang tahu
Ingin berontak bak petir membelah lautan
Tak ada mata yang perduli, tak ada kasih yang diberi
Nyaringnya pecahan terdengar dalam hati

Mencari cinta yang dulu pernah bersinar
Yang kini ada di indahnya senda
Bagai mengharap kucing bertelur
Bodoh bila ditunggu
Lihatlah luas nya bumi
Carilah indahnya kasuari






HHmmm mungkin membaca puisi diatas masih banyak yang bingung ya? heheh maaf kalo jelek, masih belajar :)
mungkin ini kilasan makna dari puisi diatas. semoga bisa dimengerti :)


puisi ini menggambarkan kesedihan hati seorang wanita, yang nama kekasihnya memiliki pujaan hati lain (b). pada bait pertama, si wanita menggambarkan perbandingan dirinya dengan wanita(b). disitu ia menunjukan kalau ia tidak lebih cantik dan menawan daripada wanita(b). namun kekasihnya sangat sangat mendambakan sosok wanita seperti wanita(b), yang juga digilai banyak orang. kekasihnya pun lebih memilih wanita(b). hatinya menangis, namun wajah nya tidak menampakan itu. dibait terakhir, terdapat amanat : percuma saja berlarut dalam kesedihan, lebih baik kita move on :)


terimakasih teman - teman telah membaca. maaf kalau jelek dan tidak jelas yaa hehehe:)










Read More...

Sunday, 1 March 2015

It's Me

      1 Maret 2015. Tepat 22 tahun pernikahan kedua orang tuaku. Mungkin 22 tahun juga ibuku merasakan penderitaan. Entah seberapa sakit, hanya ia yang bisa merasakan.  Namun, disini aku adalah putri tertua. Aku bisa merasakan. Lewat air mata yang jatuh setiap malam. Mungkin itulah persamaan kami berdua. Tiada malam tanpa air mata. Terkadang aku berfikir. Apa dosa yang telah diperbuat ibuku, sampai harus menanggung penderitaan ini. Apa ini juga yang akan kurasakan kelak? 
      8 tahun. Itu yang ku ingat. Setiap malam aku mendengar orang tuaku berkelahi. Pukulan. Teriakan. Jeritan. Hampir setiap hari. Setia pulang bekerja, larut malam, hanya suara keras yang kudengar. Seakan ada jin yang merasuki tubuh ayah. Ya, memang itu yang terjadi. Aku tidak tahu apa salah ayah sampai ada orang jahat yang melakukan ini kepada nya. Mungkin tidak bisa disembuhkan. Padahal aku tahu, ayah sangat menyayangi kami. Kalau tidak, tidak mungkin dia melakukan ini semua untuk kita. Banting tulang bekerja dari pagi sampai pagi lagi, mengambil semua pekerjaan yang bisa dikerjakan, berhutang kesana – kemari, sampai menjual semua barang yang ia miliki. Ya, kami memang orang miskin. Ibu juga melakukan hal yang sama. Tak ada hari tanpa berhutang. Semua mereka lakukan untuk kami, anak – anak nya. Terkadang ibu berhutang bahan makanan yang terbilang mahal. Akupun marah. Kenapa ibu berhutang makanan – makanan yang mewah. Darimana kita dapat uang untuk membayarnya. Namu setelah itu aku pasti lari kekamar dan menangis mendengar jawaban dari ibu. “tak apa, nanti ibu yang cari uang buat bayar, yang penting kalian bisa makan enak hari ini, kan bosan kalo makan nya itu – itu saja”. Ibu selalu melakukan itu. Bahkan untuk ongkos sekolah ku dan adik – adikku ibu masih sering meminjam uang kepada tetangga. Subuh – subuh mengetuk pintu tetangga untuk meminjam uang. Aku tak tahu apa yang ia rasakan. Namun sering kali orang tua ku mendapat pujian dari orang – orang. Seorang buruh bisa menyekolahkan anak – anak nya sampai tingkat atas. Mungkin itu yang memotivasi orang tuaku untuk selalu bekerja keras demi masa depan kami. Ibu selalu bilang, “bukan ayah ibu yang berjuang. Tapi kita semua yang harus berjuang”. Hari demi hari kita lalui dengan penuh penderitaan. Kebutuhan hidup makin banyak, pengeluaran makin besar, namun pemasukan yang tak bisa naik. Kakak ku adalah seorang teknisi listrik disuatu perusahaan. Penghasilannya hanyalah gaji rata – rata karyawan. Tapi dari situlah penghidupan kami. Penghasilan ayah digunakan untuk ongkos sekolahku dan adik – adikku. Kita hidup dalam segala sesuatu yang serba kekurangan. Bahkan terkadang saudaraku memberi bantuan dalam bentuk apapun. Aku selalu sedih melihat orang –orang yang berkekurangan. Padahal orang lain pun sedih melihat kondisi keluargaku.
Ayah dan ibu saling berjuang untuk kami. Tapi tidak untuk mereka sendiri. Mungkin ini tahun kedua ayah dan ibu memutuskan untuk berpisah. Memang tidak berpisah secara resmi. Mungkin ibu sudah tidak bisa lagi menahan ini semua. Ya, sudah berpisah. Tapi, ada saja terror dari ayah yang selalu membuat ibu menangis. Aku tak tau apa yang ada didalam pikiran ayah, apa yang ayah rasakan. Ayah seringkali mengirim sms ataupun menelepon ibu dan mengatakan yang tidak – tidak. Seandainya aku tahu siapa yang berbuat ini kepada ayah, aku taruhkan nyawaku asal orang itu berhenti bernafas. Aku tahu, semua yang terjadi kepada keluarga ini bukan lah sepenuhnya salah ayah. Ayah juga korban. Korban dari orang yang membencinya, lalu berbuat jahat kepadanya. Seandainya saja ini tidak terjadi, mungkin kami masih bercanda gurau bersama diruang keluarga sambil menonton tv, melihat ayah pulang kerja setiap malam, bercerita- cerita tentang kejadian yang kita alami hari ini. Namun semua itu tidak mungin lagi terjadi. That’s impossible thing.  
Aku bukanlah siswa pintar disekolah. Tapi untuk masuk sekolah itu perjuanganku dan kedua orang tuaku sangat besar. Ayah rela tidak bekerja sampai seminggu untuk menemaniku mengurus kepindahan sekolahku ke SMK. Tahajjud dan dhuha tidak lepas dari ibu. Setiap hari ayah bangun jam setengah empat pagi lalu menjemputku kerumah untuk mengantarkan kesekolah. Perjalanan dari tempat ayah tinggal sampai kerumahku butuh waktu kuranglebih 1,5 jam. Mungkin tidak semua ayah akan melakukan hal itu. Itulah yang selalu membuatku ingin terus maju. Walau terkadang aku merasa kemampuanku terbatas. Aku tidak bisa menjadi secerdas teman – teman. Entahlah… mungkin inilah jatah ku. Bagaimanapun, bisa masuk kesekolah itu sudah jauh lebih dari cukup. Semua harus aku jalani. Aku harus berikan yang terbaik.  Semua demi kedua orang tuaku. Walau mereka sudah tidak bersama lagi. Walaupun mereka tidak sekaya orangtua teman - temanku, tapi tetap kewajibanku membalas budinya kelak, walau hanya sebiji jagung. Sering kali aku merasa iri dengan teman – temanku. Bekerja diperusahaan ini, sedang kerja dikota ini, gajinya sebesar ini, mobilnya merk ini, gadget nya ini itu dan blablabla. Sementara ayah, untuk membeli hp saja harus menabung berbulan – bulan. Tapi temanku? “eh bokap gue baru beli zenfone kemaren”, “eh anjir bokap gue baru beli Samsung galaxy blablabla”, semakin hari semakin banyak teman – temanku yang mengupdate gadgetnya. Aku? Yap! aku sadar. Semua yang kupakai hari ini, adalah pinjaman. Pinjaman dari orang tuaku. Aku harus mengembalikannya, kelak jika sudah bisa menghasilkan uang. Laptop yang ku pakai sekolah memang bukan barang yang bagus jika dibandingkan dengan laptop teman – teman ku. Bahkan harganya tidak lebih tinggi daripada smartphone mereka.  Tapi barang ini didapatkan ayah dengan penuh perjuangan. Aku harus menggantinya nanti. Bukan dengan uang, tapi dengan kebahagianku kelak. Aku selalu berkomitmen, dalam sebulan orangtuaku memberi uang sekian, maka jika aku sudah kerja, dalam sebulan aku harus memberi orangtuaku minimal 3 kali lipat dari yang dulu mereka berikan. Kehidupanku yang serba kekurangan ini sebisa mungkin aku tutupi dari teman – teman. Aku tidak mau ada belaskasihan dari mereka. Cukup hanya lingkup internal yang tahu bagaimana keadaan ku dan keluargaku.
Aku hanyalah seorang remaja putri biasa. Seringkali merasa kesepian. Waktu luang ibu digunakan untuk mengurus adik – adikku. Membantunya mengerjakan PR, menemaninya bermain, sampai menemani menonton tv. Tak masalah ibu tak punya waktu untukku, asalkan ia ounya banyak waktu untuk adik – adikku. Kalau bukan ibu, siapa lagi yang memberi mereka perhatian. Ayah mungkin tidak bisa sesering ibu. Jujur, walaupun sudah beranjak dewasa, aku tetap merasa butuh perhatian. Kepada siapa aku curhat? Kepada siapa aku menagis jika ada yang menyakitiku? Mungkin hanya lewat menulis aku meluapkan semuanya. Teman curhat? Ya, ada. Tapi tidak semua bisa aku ceritakan. Mungkin teman curhat ku ini sangat special. Semua orang bilang kita pacaran. Tapi sebenarnya bukan itu yang terjadi. Berawal dari masuk dalam projek yang sama, saling curhat, saling menceritakan masa lalu, satu meja dikelas, belajar bersama, makan bersama, berbincang – bincang di telpon seharian, bahkan hingga larut malam. Sampai akhirnya kita sadar kalau kita sedang dalam kondisi yang bisa mempengaruhi emosi kita, yaitu cinta. Ya, kita sadar kita saling mencintai, saling menyayangi. Ada rasa untuk saling perduli, saling melindungi. Mungkin dia lah jawaban dari doaku. Walaupun ayah tak bisa stand by untuk menjagaku, aku berharap ada seseorang yang bisa melakukannya untukku. Dia adalah laki – laki yang baik, keluarganya jelas, tidak seperti aku. Terkadang aku merasa iri jika dia bercerita tentang keluarganya, bercerita tentang hal – hal yang tidak mungkin terjadi kepada keluargaku, bercerita tentang ayahnya, yang sangat berbeda jauh dengan ayahku.  Seiring berjalannya waktu, aku merasakan bahwa dia milikku dan aku miliknya. Aku tahu ini tidak baik. Aku ingin dia menghabiskan waktunya hanya untukku, melakukan apapun yang aku mau, memenuhi semua keinginanku. Aku tau ini adalah egois. Tapi ini semua keluar dari alam bawah sadarku yang merindukan hal – hal itu. Semenjak ayah dan ibu berpisah, mungkin taka da lagi yang memenuhi keinginanku. Diriku dikesampingkan. Aku merasa seperti orang yang sedang diasingkan, kesepian.  Semua yang kuinginkan hanya hayalanku belaka. Ya, aku mengerti itu. Tapi apa ada seorang perempuan berumur 17 tahun yang tahan dengan kondisi itu? Aku rasa tidak.  Aku juga butuh kasih sayang, perhatian, waktu untuk mendengarkan ku. Semua yang tidak pernah lagi aku dapatkan. Aku butuh teman. Butuh lebih dari teman. Tetapi, semakin kesini, dia semakin sibuk. Waktu untuk berbincang – bincang, untuk bersama semakin lama semakin sedikit. Aku tahu kesibukannya adalah hal positif. Semua yang dia lakukan adalah untuk masa depannya, sama seperti aku. Tapi ada keegoisan dalam diri ini yang tak mau mengalah. Sakit rasanya untuk memilih, mengikuti keegoisan ini atau mengertikan kondisi dia. Seandainya dia tahu, kalau hanya dialah yang bisa membuatku merasa aman, nyaman, merasa kalau aku masih dibutuhkan didunia ini, hanya dia yang bisa melakukan semua itu untukku, selain ayah. Seandainya dia tahu itu. Tapi, masih banyak hal yang lebih utama daripada aku, dimatanya. Orang tuanya, keluarganya, masa depannya. Seharusnya aku lebih mengalah. Ini semua memang salahku, keegoisanku. Seharusnya aku tidak melibatkan siapapun dalam kondisiku yang tidak jelas ini. Dari situ aku mulai belajar, keegoisan bisa merubah segalanya. Apapun kondisinya, keegoisan harus dimusnahkan dari dalam diri ini.
Aku dibesarkan dan disekolahkan bukan untuk itu. Tujuanku hanya satu, yaitu membuat penderitaan orangtua ku berhenti, terutama ibu. apa yang dirasakan ibu jika putri nya berlarut - larut dalam kesedihan. 20 tahun lebih penderitaan dirasakan ibuku. Ia selalu berkata, “doa utama ibu adalah agar putri – putri nanti ibu tidak merasakan apa yang ibu rasakan sekarang, tidak ada laki – laki yang menyakitinya”. Ibu, aku juga selalu berdoa, semoga semua penderitaan yang ibu rasakan selama ini akan berganti menjadi kebahagian J

 Aku tahu kalian sudah tidak bersama lagi. But, happy 22th anniversary J





Read More...